Pernikahan Dini yang Berakhir Pilu

Jakarta: Honda Civic B 7011 VFL biru melaju santai di kawasan Kemang. Setibanya di sebuah cafe di deretan Kemang, seorang wanita berambut panjang, berhidung mancung, dan berkacamata membuka pintu. Sebut saja namanya Mawar. Sapanya ramah serta senyumnya sumringah.

Tak ada raut sendu di wajah cantiknya itu. Namun, sepenggal cerita sedih tertanam di dalam hatinya. “Ya, memang aku MBA (Married by Accident/hamil di luar nikah),” buka pembicaraan bersama tim Medcom.id di sore akhir September yang lalu. Tak lama kemudian Mawar membuka kisahnya.


(Pergaulan bebas membawa Mawar terjerumus lebih dalam lagi. Foto: Ilustrasi. Dok. Rawpixel/Unsplash.com)

Akibat Pergaulan Bebas
Saat itu, Mawar kelas 2 SMA, di pertengahan tahun 1994 saat usianya baru saja 16 tahun, hasratnya untuk eksis dan mengukuhkan diri sebagai salah satu anak gaul Jakarta rasanya umum. “Beberapa teman gaul yang mencoba menengguk bir atau mocktail yang ringan rasanya juga oke-oke aja. Namanya juga dugem (dunia gemerlap-di dalam club) kan,” ucap wanita berkulit putih ini.

Gejolak yang dialami oleh masa remaja menuju dewasa muda juga yang membuat diri Mawar berani untuk mencoba meminumnya dan saat itu ia bertemu dengan seorang lelaki manis AD di tempat yang sama.

Tak perlu waktu lama Mawar dan AD seperti sudah luwes. Banyak berbicara, dari mulai obrolan palajaran sekolah sampai ke arah pribadi. Antara sadar atau di bawah pengaruh alkohol, Mawar dan AD menaikkan eskalasi perjumpaan pertama mereka. Hasrat tak terkendali pun terbakar oleh api romansa. 

Menuju parkiran Mawar dan AD lalu memutuskan untuk meneruskan. Kejadian yang berlangsung tak sampai 2 jam di sebuah hotel itu pun akhirnya merubah jalan hidup Mawar untuk selamanya.

(Baca juga: KPAI: Tren Pernikahan Dini Masih Tinggi)


(Semua perasaan Mawar bercampur aduk, ia takut hamil di luar nikah. Foto: Ilustrasi. Dok. Katsiaryna Endruszkiewicz/Unsplash.com)

Pernikahan Dini
Beberapa minggu setelah pertemuannya dengan lelaki berinisial AD tersebut, Mawar merasakan keanehan di dalam dirinya. “Bangun tidur terasa pusing. Ada rasa ingin muntah juga,” papar Mawar. Ia mengatakan juga jadi sulit makan. “Teman-teman bilang saya rada pucat, karena enggak nafsu makan. Rasanya mulai enek. Mulai deh saya curiga. Dan setelah dua minggu saya coba test pack sendiri, hasilnya negatif sih,” ujarnya sambil bingung.

Sempat ia berpikir, apakah bisa terjadi kehamilan saat seorang wanita baru saja selesai menenggak alkohol. “Ah, enggak mungkinlah kalau saya hamil. Kan waktu itu baru selesai minum cocktail tentu ada alkoholnya, jadi saya PD enggak hamil. Masuk angin barangkali,” tukas Mawar.

Semua perasaan bercampur aduk, ia takut hamil di luar nikah.

Setelah mengalami pergulatan batin berjam-jam, akhirnya Mawar memberanikan diri untuk memberitahukan sang ibu. “Ya saat itu, bingung ya, mau kasih tahu pasti Mama saya marah, tapi salah juga kalau enggak dikasih tahu saya bingung kalau misalnya benar hamil,” aku Mawar. 

Dengan berat hati sambil berlinang air mata kedua orang tua Mawar akhirnya membawanya untuk diperiksakan pada dokter obgyn untuk mencaritahu yang sebenarnya. Hasilnya positif. “Wah di situ tuh saya deg-degan, bingung. Karena sempat terbersit untuk menggugurkan kandungan. Tapi untungnya enggak jadi. Saya takut,” ucap wanita berpostur tinggi ini.

Tak mau menanggung malu kedua orang tua Mawar minta bertemu dengan orang tua AD. Kesepakatan pertemuan antara kedua orang tua pun terjadi, bahwa pernikahan di bawah tangan harus dilakukan, namun Mawar akan diterbangkan ke Australia setelah itu.


(Australia tempat Mawar menempun sekolah dan kuliah. Foto: Holger Link/Unsplash.com)

Mengungsi di Negeri Kangguru
“Saya benar-benar merasa enggak berdaya ya. Di satu sisi, saya bingung dengan kehamilan yang tidak direncanakan ini. Di satu sisi saya takut sekolah saya berantakan. Saya juga khawatir bagaimana dengan masa depan saya. Kalau kenapa-kenapa dengan bayi ini bagaimana? Orang tua saya pasti malu,” paparnya panjang.

Mawar mengatakan bahwa saat diungsikan di Australia ia menjalani hari-hari dengan belajar lagi bahasa Inggris ditemani dengan seorang caregiver yang dibayar per hari. “Kursus bahasa Inggris private,” ungkapnya selama kehamilan. Ia juga memutuskan untuk tidak menjalin pertemanan lagi dengan semua teman sekolahnya. “Saat itu saya benar-benar sedih campur kalut. Saya belum bekerja, belum selesai sekolah. Stres dan saya tidak mau aib ini ada yang tahu,” kenang Mawar.

Maret 1995 waktu yang tidak akan dilupakan oleh Mawar. Ia melahirkan bayi laki-laki. Namun empat bulan paska melahirkan, usia Mawar yang baru 17 tahun itu dirasa belum siap untuk mengurus bayi mungil. “Akhirnya mama dan papa sepakat bawa anak saya ke Indonesia. Mereka bilang, walau hidup saya sudah rusak, tapi pendidikan saya jangan sampai rusak. Mereka mau membiayai saya sekolah lagi sampai saya kuliah di Universitas Adelaide,” ucapnya.

Saat itu Mawar merasa haru ada harapan untuk masa depannya melalui jenjang pendidikan kuliah. Ia mengambil Bachelor or Accounting sebagai jurusannya. “Kala itu saya merasa saya diberi kesempatan kedua. Mama dan papa saya mau mengurus semua surat-surat dan biaya. Paling tidak saya sudah melakukan hal yang salah, sekarang ini saya jangan menyia-nyiakan lagi kesempatan emas. Dan walaupun kuliah saya molor sampai sekian tahun, akhirnya saya lulus juga,” tukasnya.


(Di dalam satu atap sembilan tahun lamanya Mawar bersama dengan sang suami lebih banyak dihiasi dengan aneka pertengkaran. Foto: Ilustrasi. Dok. Sharon McCutcheon/Unsplash.com)

Kehilangan Bonding dan Rumah Tangga yang Hancur
Mawar tahu ia kehilangan bonding dengan anaknya. Namun ia yakin si kecil berada di tangan yang tepat nenek dan kakeknya. “Ketika saya selesai dan balik ke Indonesia, anak saya berusia 6 tahun dan saya 22 tahun,” tutur Mawar yang saat itu tepat tahun 2000.

“Ia tak mau panggil saya ibu, karena yang ia tahu mama saya itu adalah ibunya. Saya tahu saya kehilangan bonding dengan anak saya bahkan saat ia belum berusia 5 bulan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dan saya rasa saya bisa memulai berumah tangga yang baik dengan tinggal bersama suami saya dan anak kami satu-satunya,” ucap Mawar.

Namun harapannya kandas lagi, Mawar tak bisa membawa si kecil serumah karena merasa bersama orang asing. “Pertemuan pertama kali dengan AD dan anak saya seperti di sinetron. Cuma bisa sama-sama menangis,” ucapnya sedih.

Setelah membuat kesepakatan akhirnya si kecil tetap bersama kedua orang tua Mawar namun ia berusaha untuk membangun rumah tangganya bersama AD. “Saya tak putus untuk berusaha berkomunikasi. Dulu pakai email dan foto. Harapan saya bisa membangun di atas keruntuhan saya dan AD, setelah kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan anak saya,” ungkapnya.

Di dalam satu atap sembilan tahun lamanya Mawar bersama dengan sang suami lebih banyak dihiasi dengan aneka pertengkaran. Tak jarang barang di rumah juga hancur. “Tiada hari tanpa berantem, banyak piring hancur,” singkat Mawar. Ditambah lagi konflik rumah tangganya terus menaik ketika di usia pernikahannya ke-9 sang ibu mertua seakan ingin menyingkirkannya mentah-mentah dengan membawa seorang wanita yang jauh lebih muda untuk suaminya.

“Saya mengamuk. Hampir seisi rumah saya hancurkan. Tv, sound system, lemari, jendela. Hati saya sedih, hancur. Saya rasa dunia saya habis tak bersisa. Saya merasa Tuhan tidak adil. Kehidupan sudah cukup menyiksa saya. Lalu saya kembali ke Indonesia dengan sisa harapan namun tak berhasil. Dan suami yang saya ikuti justu diberi umpan perempuan lain di depan mata saya, dan ia mengikuti apa yang ibunya mau. Saya terpaksa keluar hanya dengan baju di badan kembali ke rumah orang tua saya.”

Mawar menyadari mengawali kehidupan pernikahan dengan kisah yang salah. Pernikahan dini tak membuat pondasi yang kuat karena berbagai faktor yang belum siap dan belum pada waktunya. 

Kini Mawar tegar menjadi single mother. “Pelajaran ini begitu berharga. Sakit, patah hati, nyaris tanpa dukungan, kehilangan dan perbuatan yang hanya sekian jam mampu merusak lebih dari setengah kehidupan saya. Dan saya menyesalinya. Namun melihat anak saya satu-satunya yang kini sudah semester akhir di sebuah universitas swasta, menjadi penyemangat saya. Dan saya terus berusaha untuk menjadi satu-satunya orang tua yang menyanyanginya semampu saya,” tutup Mawar.


(Sebuah pernikahan yang dilakukan pada saat remaja lebih membuat stres. Foto: Ilustrasi. Dok. Djim Loic/Unsplash.com)

Pernikahan Dini di Mata Psikolog
Jovita Maria Ferliana, MPsi, psikolog anak dan remaja dari RS Royal Taruma, Jakarta mengatakan bahwa remaja masih berkembang sistem reproduksinya. “Untuk itu makanya remaja atau dewasa awal itu masih menggebu-gebu,” ucap psikolog yang ramah ini. 

Jovita mengatakan kegiatan yang menggebu-gebu nyaris spontan (tanpa berpikir panjang) tersebut merubah sebuah kehidupan sang remaja tersebut. 

“Remaja yang melakukan seks kemudian pernikahan dini, mengalami tekanan, malu, caci maki, dikucilkan, yang merupakan dampak penyerta dari kehamilan tak terencana pada usia-usia sekolah,” ucap Jovita.

Menurut Jovita, dalam penelitian yang dilakukan oleh dr. Boyke juga menerangkan bahwa 50 persen dari pasien aborsi-yang ada di sebuah klinik aborsi itu rentang usianya dari 15-18 tahun. 34 persen kasusnya karena seks di luar nikah.

“Secara umum remaja yang melakukan seks di luar nikah mengalami gangguan mental. Karena kondisi malu, frustasi, depresi, yang mempermudah seseorang itu mengalami gangguan mental. Dan biasanya, klien yang datang dengan gangguan mental karena ada penyertanya karena hamil di usia dini adalah depresi, kecemasan, dan traumatic stress disorder (post traumatic stress)-trauma yang diakibatkan karena suatu kejadian tertentu yang tidak diharapkan. Jadi trauma, cemas, dan depresi biasanya itu yang terjadi dari sisi gangguan mentalnya.”

Dalam sisi penerimaan sosial pada remaja juga punya konsekuensinya yang bisa membuat remaja tersebut menjadi merasa tak berdaya karena mendapatkan label-label negatif pada si remaja tersebut. “Secara fisik juga tidak sehat, karena lebih mudah terpapar kanker serviks dan bisa Frigiditas,” papar Jovita.

Menurut Jovita pada seseorang yang mengalami post traumatic stres di kasus seks di luar nikah bisa menjadi seks sama dengan menyakitkan, dikucilkan, dibuang, dicaci maki, dan lainnya juga termasuk dalam kasus vaginismus-suatu disfungsi seksual pada wanita yang berupa kekejangan abnormal otot vagina.

“Dan itu terbawa di bawah alam sadar terekam sehingga terkondisikan situasi (yang menyakitkan itu). Dan dengan usia muda masa remaja yang belum punya keterampilan dalam mengasuh anak membuat kedua belah pihak jadi lebih mudah berantam dalam berumah tangga. Termasuk KDRT dengan memukul atau dengan membanting sesuatu. Hal ini karena emosi yang kurang stabil.”

“Jadi sebuah pernikahan yang dilakukan pada saat remaja lebih membuat stres karena terbebani saat teman-teman sebayanya masih hangout, main, bergaul sedangkan dia tidak. Dan emosinya melampaui batas dan akhirnya langsung muncul kekerasan yang dalam bentuk KDRT.”

Mengapa pernikahan dini memicu kekerasan? Jovita menerangkan bahwa di dalam otak kita terdapat pattern.Pattern seseorang yang mengalami hamil di luar nikah saat remaja sebetulnya dilakukan atas ketergesa-gesaan, belum siap menjadi orang tua, sehingga mudah menimbulkan kekerasan. Di bawah alam sadarnya terpola bahwa bersama dia atau melakukan seks lagi dengan dia sama dengan berbagai rasa tidak enak di atas. Sehingga tidak jarang baru ketemu saja, tension emosinya sudan naik. Disitulah rentan kekerasan mudah terjadi.”

(TIN)