Eman Sulaeman, Atlet Disabilitas yang Harumkan Nama Indonesia di Ajang Olahraga Internasional

Jakarta: Terlahir tak sempurna bukan berarti tak bisa berprestasi. Salah satunya adalah Eman Sulaeman. Terlahir tanpa kaki kiri, Eman tetap bisa tampil sempurna. Ia menyabet gelar penjaga gawang terbaik dalam pertandingan Street Soccer tingkat internasional di Glasgow, Skotlandia pada Juli 2016 lalu. Ia mengharumkan nama Indonesia dalam ajang olahraga Homeless World Cup (HWC) 2016.

Dan pada Oktober ini, di ajang perhelatan besar Asian Para Games 2018 para atlet disabilitas bertanding dalam ajang olahraga internasional di Jakarta. Pesta olahraga yang berlangsung pada 6-13 Oktober tersebut diikuti oleh 42 negara. Namun sayangnya Eman tak berpartisipasi dalam Asian Para Games 2018. Namun ia berpesan dan memberikan spirit yang sama tingginya untuk teman-teman disabilitas semua dalam ajang empat tahunan sekali ini. 

“Untuk teman-teman yang ingin bertanding, semangat dan tunjukkan yang terbaik untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Semoga Indonesia jadi juara,” pesan Eman Sulaeman, ketika dihubungi tim Medcom.id, Rabu, 3 Oktober 2018 lalu. Melalui sambungan telepon juga, pria yang ramah ini menceritakan bagaimana ia bisa mewakili Indonesia dalam ajang HWC 2016 tersebut. 


(Terlahir tanpa kaki kiri, Eman tetap bisa tampil sempurna. Ia menyabet gelar penjaga gawang terbaik dalam pertandingan Street Soccer tingkat internasional di Glasgow, Skotlandia pada Juli 2016 lalu. Ia mengharumkan nama Indonesia dalam ajang olahraga Homeless World Cup (HWC) 2016. Foto: Dok. Eman Sulaeman)

Ditawari Seleksi

Awalnya, ia mendengar tentang HWC dari teman di tahun 2015. Ia ditawari untuk mengikuti seleksi yang dilaksanakan olah komunitas yang berfokus pada narkoba dan HIV/AIDS Rumah Cemara di Bandung. 

“Seleksi dilaksanakan pada bulan April atau Mei, kemudian terpilih pada bulan Juni. Lalu, dilakukan karantina selama sebulan di Bandung, latihan di Lapangan Balubur,” ujarnya pada Medcom.id.

Kebetulan, masa karantina berbarengan dengan bulan puasa. Pria kelahiran 1988 tersebut mengungkapkan bahwa dibutuhkan penyesuaian fisik selama itu, tetapi ia mengaku tetap lancar beribadah dan latihan. 

Latihan dilakukan dua kali dalam sehari, pagi hari pukul 6-8 pagi dan sore hari pukul 4-6 sore. Pada akhir pekan, jatah latihan ditambah satu kali yaitu di malam hari pukul 10-12 malam. 

Alhamdulillah, bisa melewati latihan sampai selesai dan bertanding di sana dengan baik,” pungkasnya, meskipun sempat mengalami cedera hingga harus diperban hingga hari pertandingan tiba. 

Sebagai penjaga gawang, pria yang berdomisili di Majalengka, Jawa Barat, tersebut cenderung mengalami masalah pada bagian tangan saat latihan. Bahkan, saat pertandingan pun ia masih mengenakan perban di tangan dalam beberapa pertandingan. Namun, ia tak patah semangat. 

“Ini satu kali seumur hidup, jadi harus all out, menampilkan sebaik mungkin.”

Indonesia berhasil menjadi peringkat ketujuh dunia dari 52 negara yang mengikuti HWC 2016 dan Eman menjadi penjaga gawang terbaik. 

Selain cedera, salah satu hal yang berbeda dengan keseharian Eman di HWC 2016 adalah cuaca. Perubahan yang cepat di Glasgow yang tak menentu membuat Eman dan teman-temannya harus bisa menyesuaikan diri. 

“Di sana bisa satu jam panas, satu jam berikutnya hujan. Tapi karena udara di Majalengka dan Bandung juga sajuk, jadi ya bisalah (menyesuaikan).”

Kini, dua tahun setelah momen bersejarah dalam hidupnya tersebut, pria lajang yang memiliki usaha servis barang elektronik tersebut semakin mendedikasikan hidupnya pada futsal. Ia menjadi pelatih futsal anak-anak di daerah sekitar rumahnya seminggu sekali di akhir pekan.

Setahun terakhir, selain melatih kemampuan dalam berolahraga, Eman juga menumbuhkan motivasi pada para generasi muda tersebut. 

“Saya memberikan motivasi agar mereka semangat mengejar apa yang mereka inginkan, dan mereka jadi rajin latihan,” ujarnya, yang menjadikan dirinya yang disabilitas, sebagai motivasi untuk mencapai cita-cita sebagai atlet. 

(Baca juga: Jaring Atlet Difabel Berprestasi, Pemerintah Buka SKO Khusus Disabilitas)


(Awalnya, Eman mendengar tentang HWC dari teman di tahun 2015. Ia ditawari untuk mengikuti seleksi yang dilaksanakan olah komunitas yang berfokus pada narkoba dan HIV/AIDS Rumah Cemara di Bandung. Foto: Dok. Eman Suleaman)

Diskriminasi yang makin terkikis

Ketika membicarakan terkait bagaimana diskriminasi pada kaum disabilitas, Eman melihat hal tersebut sudah berkurang drastis. Dulu, ia merasa kaum disabilitas kerap dicemooh, dihina, hingga dijauhi oleh lingkungan sekitar.

“Kalau saya lihat, diskriminasi sudah terkikis. Dulu sebelum perkembangan zaman, terasa sekali,” tukas Eman. Kini, masyarakat sudah mulai paham dan bisa menerima keberadaan kaum disabilitas dengan lebih terbuka.

Tak hanya respons, pelayanan juga semakin membaik. Beberapa fasilitas seperti tangga, jalan, dan penyeberangan di perkotaan banyak yang sudah ramah penyandang disabilitas. 

“Tapi kalau bisa, di daerah juga diperhatikan fasilitas untuk kaum kami. Biar sama rata antara di kota dan daerah.”

Setali tiga uang dengan fasilitas publik, Eman juga mengungkapkan bahwa dunia kerja nasional juga makin terbuka lebar untuk kaum difabilitas. 

Alhamdulillah sudah ada jatah PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk kami, walau hanya satu persen. Ini menunjukkan respons positif pemerintah,” pungkasnya, yang berharap angka tersebut bisa dinaikkan hingga 10-15 persen ke depannya. 

Terakhir, ia berharap semua jenis pekerjaan bisa terbuka lebar bagi kaum disabilitas agar mereka bisa lebih mengembangkan kemampuan karier lebih luas lagi. 

Awal Mula Indonesia Mengikuti HWC

Tahun ini, Indonesia mengirimkan wakilnya di HWC untuk kedelapan kalinya di Meksiko pada 13-18 November mendatang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tim terdiri dari delapan pemain yang ditemani satu manager dan satu pengurus pemain.

Namun, ada yang berbeda tahun ini. Untuk pertama kali, tim Indonesia mengikutsertakan pemain wanita, yaitu Eva Dewi Rahmadiani (35). Wanita yang merupakan anggota Rumah Cemara tersebut mengaku memang menantikannya sejak 2013. 

“Akhirnya dikasih kesempatan tahun ini untuk ada perempuan. Awalnya saya tidak yakin, karena merasa sudah tua, meskipun tak ada batasan umur,” ujarnya pada Medcom.id, Jumat 28 September 2018 lalu. 

Lalu bagaimana awal mula Rumah Cemara bisa mengikuti ajang olahraga tersebut?

Direktur Rumah Cemara, Aditia Taslim, mengungkapkan semua bermula dari kebiasaan bermain bola bersama di tahun 2006. 

“Rata-rata di Rumah Cemara adalah laki-laki dan suka main bola. Jadi bermain cuma buat rekreasi saja, dengan tim futsal komunitas lain,” ujarnya pada Medcom.id saat ditemui beberapa waktu lalu. 

Merasa semakin jago, mereka pun mencoba tantangan baru dengan mengajak bertanding klub-klub futsal resmi, salah satunya dari kampus di Bandung, Universitas Padjajaran. Tak hanya sekedar olahraga, pertemanan pun terjalin dalam pertemuan rutin tersebut. 

Bertujuan advokasi, Rumah Cemara ikut menyelipkan informasi terkait HIV/AIDS dan bahaya NAPZA pada setiap lawan bertanding saat mengobrol santai. 

Ternyata, strategi tersebut ampuh. Mereka berhasil menjangkau kalangan yang belum terpapar seputar informasi HIV/AIDS. Tak hanya pada klub futsal, Rumah Cemara juga mengadakan semacam kompetisi futsal dari satu perkampungan ke perkampuan di sekitar, menjadikannya sebagai program. 

Untuk mendapatkan pendanaan, Program Futsal tersebut diikutkan dalam Ashoka Changing Lives Through Football pada tahun 2010. Itu adalah kompetiasi di mana para partisipan menjabarkan program yang sedang dijalankan. Nantinya, tiga pemenang yang menang lewat pemilihan suara akan diberikan dana. 

Hasilnya, Rumah Cemara Footbal Program berhasil menyabet Grand Prize Global Winner dan mendapatkan uang sebanyak USD30 ribu Beberapa negara lain yang juga mengikuti kompetisi tersebut adalah Guatemala, Brazil, Afrika Selatan, Bolivia, dan Irak. 

Pada tahun yang sama, ide untuk mengikuti HWC pun datang. Saat itu, salah satu pendiri Rumah Cemara Ginan Koesmayadi menonton film Kicking It (2008) dan mengajak tim untuk mencoba ikut. Film dokumenter yang menceritakan tentang perubahan nasib pada pemain dalam kompetisi internasional yang saat itu berlangsung di Afrika Selatan. 

Akhirnya, tim Rumah Cemara yang terdiri dari Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan mantan pengguna NAPZA itu pun mencoba mendaftarkan diri. Sayangnya, tim Rumah Cemara yang lolos tak bisa terbang ke Rio de Janeiro, Brazil, tempat HWC dilangsungkan karena masalah finansial di tahun 2010. 

Tak putus asa, tahun berikutnya pun mereka kembali mencoba dan lolos. Kali ini, Rumah Cemara mendapatkan sumbangan dari pihak swasta dan pemerintah, seperti Gubernur Jawa Barat, Walikota Bandung, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. 

Bahkan, Ginan yang menjabat kapten tim saat itu, melakukan aksi jalan kaki dari Bandung ke Jakarta sebagai ungkapan syukur karena mendapatkan dana untuk bisa berangkat ke Paris, Prancis. 

Tak mengecewakan, keikutsertaan perdana pada 21-28 Agustus 2011 tersebut berbuah manis. Tim Rumah Cemara memboyong dua gelar, yaitu Tim Pendatang Baru Terbaik (The Best New Comer Team) dan Pemain Terbaik (The Most Valuable Player) yang jatuh pada kapten Timnas Deradjat Ginandjar Koesmayadi. 

Selain itu, Indonesia juga menduduki peringkat keenam dari dari 48 negara peserta di kejuaraan berskala internasional tersebut.

Sejak itu, Indonesia tak pernah absen hingga tahun ini. Sejauh ini, prestasi terbaik yang pernah tim Rumah Cemara dapat adalah peringkat keempat di HWC 2012. 

“Setiap tahun, pemain selalu berbeda, supaya semua bisa merasakan,” tambah Adit. 

Setiap tahun, para pemain diseleksi dari berbagai kalangan seperti ODHA, mantan pengguna NAPZA, anak jalanan, hingga kaum disabilitas yang merasa memiliki kemampuan dalam sepak bola. Bila dana memungkinkan, seleksi dilakukan di beberapa kota untuk bisa menjaring bibit sepak bola yang mumpuni.

Menurut Adit, hal ini sesuai dengan esensi dari olahraga sebagai alat untuk bisa memotivasi dan membantu menghilangkan stigma negatif pada kalangan marginal. 

“Terlepas dari kalah menang, HWC membantu menambah respons positif pada kami (ODHA dan mantan pengguna NAPZA),” tambah Adit. 


(Setahun terakhir, selain melatih kemampuan dalam berolahraga, Eman juga menumbuhkan motivasi pada para generasi muda. Foto: Dok. Eman Sulaeman)

Kans Indonesia di HWC

Indonesia mendapatkan panggung tersendiri sejak pertama kali mengikuti ajang HWC. Bukan tanpa sebab, ada tiga hal yang membuat Indonesia istimewa di mata para peserta di pertandingan tahunan tersebut. 

“Pertama, tim Indonesia selalu datang dengan gaya penampilan yang eksentrik. Selalu menjadi pemberitaan di media negara tuan rumah,” tukas Adit. 

Hal itu diakui Eman, yang langsung tertawa ringan ketika ditanya bagaimana penampilannya saat mengikuti HWC 2016. 

“Iya, memang rambut kita aneh-aneh. Ada yang dicat merah, pirang. Ini memang ciri khas Indonesia,” ujarnya. Ia mengaku mengecat rambut bagian atas dengan warna pirang. 

Kedua, keramahan tim Indonesia juga sudah tak diragukan. Kalah menang, tim Indonesia tetap tersenyum dengan lawan main. Selain itu, mereka juga tak ragu untuk berkenalan atau sekedar menyapa sesama pemain dari negara berbeda.

Bahkan, tambah Adit, pekerja kebersihan di sekitar stadion pun mereka kenal karena mereka tak keberatan berteman dengan siapa pun. 

Sementara, Eman memiliki pengalaman seru tersendiri dengan tim Rumah Cemara saat berada di Glasgow. 

“Ada teman satu tim, sebagai pengamen. Setiap berangkat bertanding, kita nyanyi-nyanyi, padahal tim lain tenang. Kita memang ramai, inilah pengalaman serunya.”

Tak hanya pemain, dukungan untuk tim Indonesia di setiap kompetisi HWC pun tak kalah ramai. Berbagai suporter yang kebanyakan pekerja dan pelajar asal Indonesia di negara tuan rumah HWC menyempatkan untuk memberi dukungan saat tim Rumah Cemara bertanding. Tak ketinggalan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) pun memberi dukungan secara maksimal, biasanya dalam hal konsumsi. 

“Sambutan dari mereka ramai, meriah, dan hangat. Seperti di negara sendiri,” pungkas Eman. 

Terakhir, pemberitaan dari media Indonesia termasuk memberi pengaruh besar dalam ajang internasional tersebut. Jumlah pemberitaan terkait HWC dari media Indonesia adalah terbanyak kedua setelah media dari negara penyelenggara ajang tersebut. 

Inilah tiga alasan kuat mengapa tim Indonesia sangat diperhitungkan dalam HWC dan diharapkan dapat terus berpartisipasi di ajang tahunan tersebut. 

Pertandingan olahraga untuk kaum disabilitas

Tak hanya Asian Para Games, terdapat beberapa pertandingan lain yang diperuntukkan atlet disabilitas, baik secara internasional maupun nasional.

Berikut adalah beberapa kompetisi bagi atlet disabel yang cukup dikenal, seperti dilansir dari Disabilitysport.org.uk. 

1. Paralympic Games
Kompetisi multi-olahraga internasional ini diadakan sehak 1948. Pada tahun 1988, kompetisi ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu Winter dan Summer Paralympic Games. Terdapat 22 cabang dalam pertandingan tersebut. 

Summer Paralympic Games 2020 akan diadakan di Tokyo, Jepang pada 25-6 September 2020. Ini merupakan kali kedua Tokyo menjadi tuan rumah, setelah tahun 1964. 

2. Paralympic World Cup
Acara multi-olahraga internasional untuk atlet dengan disabilitas ini diadakan setiap tahun di Manchester, Inggris, dari tahun 2005 hingga 2012. Terdapat lima cabang olahraga yang dipertandingkan, di mana sejak 2010 ada dua olaharaga tambahan yaitu voli duduk dan Boccia. 

Tidak ada kompetisi Paralympic World Cup yang diadakan pada tahun 2013 dan 2014, dan tidak ada indikasi bahwa acara dapat dilanjutkan dalam waktu dekat.

3. Parapan American Games
Kompetisi yang dilakukan empat tahun sekali diadakan pertama kali sejak 1999. Selain bersaing untuk medali, atlet yang berpartisipasi dalam Parapan American Games juga bersaing untuk lolos ke Paralympic Games.

Parapan American Games kelima diadakan pada 2015 dengan tuan rumah Toronto, Kanada. Selanjutnya, kompetisi tersebut akan dilaksanakan di Lima, Peru, pada 2019. 

4. IBSA World Games
Diselenggarakan oleh IBSA (International Blind Sports Federation), acara multi-olahraga ini telah diadakan setiap tahun keempat sejak tahun 1998 dengan tujuan untuk menyediakan atlet yang buta dan parsial.

Sayangnya, IBSA World Games 2019 dibatalkan dengan alasan tidak menemukan tuan rumah yang cocok. Namun, kompetisi untuk kualifikasi Goalball dan Judo Paralympic akan tetap berlangsung, pada 29 Juni hingga 7 Juli di Fort Wayne, Indiana. 

5. Deaflympics
Deaflympics adalah kompetisi elit untuk tuna rungu yang diadakan setiap empat tahun. Sama seperti Paralympic Games, Deaflympics juga terbagi dalam Summer Deaflympics (diikuti 17 negara) dan Winter Deaflympics (diikuti 11 negara) dengan jenis olaharaga yang berbeda.

Selanjutnya, Winter Deaflympics 2019 akan diadakan di Italia. Sementara Summer Deaflympic 2017 lalu diadakan di Samsun, Turki pada 18-30 Juli tahun lalu. 

6. Special Olympic World Games
Acara multi-olahraga terbesar dan paling bergengsi untuk anak-anak dan orang dewasa dengan disabilitas intelektual ini telah diadakan sejak 1968. Kompetisi ini terbagi dalam dua momen, yaitu Special Olympics World Summer Games dan Special Olympics World Winter Games.

Special Olympics World Winter Games 2017 telah diadakan di Styria, Austria pada 14-25 Maret 2017. Sementara, Special Olympics World Summer Games 2019 akan dilaksanakan pada 14-21 Maret di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. 

(TIN)